Jembatan Air Palawan Kian Memprihatinkan, Puluhan Pelajar Harus Bertaruh Nyawa Demi Menuntut Ilmu

Jembatan Air Palawan Kian Memprihatinkan, Puluhan Pelajar Harus Bertaruh Nyawa Demi Menuntut Ilmu
👁️ 4 kali dibaca

Kaur, Bengkulu| Suarajurnal.com — Setiap pagi, langkah kaki anak-anak sekolah seharusnya menjadi gambaran harapan. Namun di Air Palawan, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, langkah menuju masa depan justru harus melewati jembatan yang kondisinya memprihatinkan dan mengancam keselamatan. Minggu, (13/09/2026).

Jembatan berlantai papan yang menjadi salah satu akses penting warga kini dilaporkan mengalami kerusakan parah. Sejumlah papan terlihat berlubang, bergeser, dan tidak lagi memberikan pijakan yang aman bagi masyarakat yang melintas.
Yang lebih memprihatinkan, puluhan pelajar SDN 72 Kaur harus melewati jembatan tersebut setiap hari untuk berangkat dan pulang sekolah. Bagi anak-anak itu, jembatan tersebut bukan sekadar sarana penyeberangan. Itulah jalan yang harus mereka lalui demi mendapatkan pendidikan.

Bayangkan, setiap langkah kecil mereka harus dibarengi kewaspadaan. Salah pijakan, terpeleset, atau papan yang kembali bergeser dapat berujung pada kecelakaan. Di satu sisi ada sekolah dan cita-cita. Di sisi lain, ada jembatan rusak yang setiap hari menjadi taruhan keselamatan.

Bukan Hanya Pelajar yang Terancam
Persoalan ini tidak hanya menyangkut para pelajar. Jembatan tersebut juga menjadi akses penting masyarakat Desa Air Palawan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, berdagang, mengangkut hasil usaha, berobat, hingga memenuhi berbagai kebutuhan lainnya.

Kondisi jembatan yang semakin memprihatinkan membuat warga harus ekstra hati-hati ketika melintas. Papan yang longgar dan celah pada lantai jembatan menjadi ancaman, terutama bagi anak-anak, orang tua dan warga lanjut usia.

Jembatan yang seharusnya menjadi penghubung justru berubah menjadi sumber kekhawatiran.
Menunggu Sampai Ada Korban?
Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: haruskah menunggu ada korban terlebih dahulu baru dilakukan perbaikan?
Kerusakan fasilitas publik yang digunakan masyarakat setiap hari semestinya tidak dipandang sebagai persoalan sepele. Terlebih ketika akses tersebut digunakan anak-anak sekolah yang setiap hari harus melintas untuk menuntut ilmu.

Warga tidak sedang meminta fasilitas mewah. Mereka hanya membutuhkan jembatan yang kokoh, aman dan layak dilalui. Pemerintah diharapkan tidak sekadar mendengar keluhan dari kejauhan. Turun langsung ke lokasi, melihat kondisi sebenarnya, kemudian mengambil langkah nyata menjadi hal yang kini sangat dinantikan masyarakat.

Sebab ketika sebuah jembatan dibiarkan semakin rusak, yang dipertaruhkan bukan hanya kayu dan papan. Ada keselamatan manusia di atasnya. Ada aktivitas warga yang bergantung padanya. Dan ada masa depan anak-anak yang setiap hari harus melintasinya demi sekolah.
Jangan Tunggu Tangisan Mengiringi Langkah Mereka.

Pemerintah diharapkan segera melakukan peninjauan dan mengambil langkah penanganan terhadap kondisi jembatan tersebut.
Jangan sampai perhatian baru datang setelah terjadi kecelakaan. Jangan sampai anak-anak yang setiap pagi membawa tas sekolah dan mengejar cita-cita, justru harus pulang dengan luka akibat fasilitas yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.
Jembatan yang aman bukan kemewahan, itu kebutuhan dasar masyarakat. Dan memastikan warga dapat melintas dengan selamat adalah salah satu bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.

(Redaksi)

© Copyright 2026, All Rights Reserved | Suarajurnal.com

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *