Kritik Menggelegar, Kursi Kekuasaan Menggoda: Ke Mana Perginya Idealisme?

Kritik Menggelegar, Kursi Kekuasaan Menggoda: Ke Mana Perginya Idealisme?

SUARA JURNAL || SuaraJurnal.com — Dalam panggung politik, suara paling lantang tidak selalu lahir dari ketulusan. Kritik yang terdengar begitu keras terhadap pemerintah terkadang bisa menjadi bagian dari dinamika politik—bahkan tidak menutup kemungkinan berubah menjadi tangga menuju kekuasaan.

Kritik adalah bagian penting dari demokrasi. Ia dibutuhkan untuk mengawasi jalannya pemerintahan, menyuarakan kepentingan masyarakat dan mengingatkan penguasa ketika kebijakan dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Namun, pertanyaan mulai muncul ketika nada kritik berubah setelah peluang kekuasaan terbuka.

Di luar pemerintahan, seseorang bisa tampil sebagai pengkritik paling vokal. Pernyataan keras dilontarkan, kebijakan dipersoalkan, bahkan berbagai kekurangan pemerintah menjadi bahan serangan politik.

Tetapi ketika lampu kekuasaan mulai menyorot dan kursi jabatan berada di depan mata, arah suara itu terkadang dapat berubah.

Yang dahulu dikritik bisa menjadi tempat bernaung. Yang dahulu dipersoalkan bisa berubah menjadi ruang kompromi. Bahkan, mereka yang sebelumnya berdiri di luar lingkaran kekuasaan dapat saja masuk ke dalamnya ketika kesempatan datang.

Di titik inilah publik berhak bertanya: di mana sebenarnya batas antara oposisi yang kritis dan manuver politik untuk mendapatkan posisi?

Sebab, idealisme politik sesungguhnya tidak hanya diuji ketika seseorang berada di luar pemerintahan. Idealisme justru diuji ketika seseorang mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam lingkaran kekuasaan.

Jika kritik selama ini benar-benar lahir dari kepentingan masyarakat, maka prinsip seharusnya tetap berdiri meskipun posisi berubah.

Sebaliknya, apabila kritik berhenti ketika kursi jabatan mulai tersedia, publik tentu memiliki alasan untuk menilai dan mempertanyakan konsistensi sikap tersebut.

Fenomena semacam ini bukanlah sesuatu yang sederhana. Politik memang mengenal kompromi, koalisi dan negosiasi. Perubahan sikap tidak otomatis membuktikan adanya kepentingan pribadi. Namun, ketika perubahan tersebut terjadi bersamaan dengan datangnya peluang jabatan, wajar jika masyarakat menaruh perhatian.

Sebab, bagi rakyat, persoalannya bukan semata-mata siapa mendapatkan kursi, melainkan apa yang terjadi terhadap suara dan prinsip yang sebelumnya diperjuangkan.

Jangan sampai kritik kepada pemerintah hanya menjadi kendaraan untuk mendapatkan perhatian publik, kemudian berubah menjadi tiket masuk menuju kekuasaan.

Jangan pula sampai suara yang dahulu menggelegar demi rakyat akhirnya kehilangan gema setelah pintu kekuasaan terbuka.

Pada akhirnya, masyarakat bukan hanya membutuhkan politisi yang pandai berbicara ketika berada di luar pemerintahan. Masyarakat membutuhkan orang-orang yang mampu mempertahankan prinsip ketika berada di dalam pemerintahan.

Karena jabatan dapat diberikan melalui keputusan politik, tetapi kepercayaan rakyat hanya dapat diperoleh melalui konsistensi.

Dan publik memiliki ingatan

Mereka akan melihat siapa yang tetap berdiri dengan prinsipnya, siapa yang memilih kompromi, serta siapa yang perlahan mengubah arah setelah menemukan jalan menuju kursi kekuasaan.

Sebab dalam politik, yang paling sulit bukanlah mendapatkan jabatan. Yang paling sulit adalah tetap menjadi diri sendiri setelah jabatan berada di tangan.

Tim Redaksi SUARA JURNAL

Website : SuaraJurnal.com

Penulis : Seprial Azwar

Editor : Herpin Fascher

👁️Artikel ini telah dibaca: 25 kali
© Copyright 2026, All Rights Reserved | Suarajurnal.com

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *