Opini dari Halomoan Sirait (Mahasiswa Magister dan Pekerja Media)

Labuhan Batu (13/06/2024) – Universitas mencetak enterpreneur, bukan untuk mencari pekerjaan namun menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini digaungkan rektor Universitas Labuhan Batu , prof Ade P nasutiondalam seminar kewirausahaaan serta perkuliahan.Labuhan Batu merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang berkontribusi dalam APBN untuk komoditas kelapa sawit, karet hingga ikan laut. Sejak Covid 19 menyerang Indonesia dengan peraturan PPDB , 80% UMKM di Labuhan Batu lenyap, pasar pariwisata kehilangan wisatawan, CPO memotong penghasilan petani sawit dari turunnya harga sawit ke angka Rp.1000/kg. Sedangkan disektor usaha makanan dan pengolahan ikan, singkong, sayur tetap ditopang pemerintah melalui dana darurat yang disalurkan kepada UMKM melalui bank dan kanal bantuan sosial.
UMKM tetap diteliti oleh Universitas Labuhan Batu, dulu ia bernama Sekolah Tinggi Ekonomi yang melahirkan pakar pakar ekonomi. Petani cabai mau tak mau berkolaborasi dengan Bank Indonesia yang letaknya di Pematang Siantar untuk mendapatkan bantuan alat tani berupa, mesin penggiling dan mesin penyiram. Beberapa pelaku UMKM tetap menggalakkan program dana hibah bagi masyarkat melalui program Abdimas dan Pengabdian Masyarakat. Dinas Labuhan Batu sendiri tidak serta merta diam dalam merevitalisasi UMKM paska Covid, UMKM terus diteliti melalui data dan fakta yang akurat melalui data BPS untuk mencegah stunting dan kesehatan masyarakat. Fasilitas pemerintah tidak serta dinikmati oleh orang kaya, namun juga warga yang kurang mampu secara ekonomi dan taraf hidup. Seminar Kewirasuahaan terus dikibarkan, agar generasi muda memandang bahwa karier tidak didaptkan lewat CPNS maupun BUMN, tapi juga membentuk karakter untuk melihat peluang dan tantangan.
UMKM tentu harus padat modal, dapat melihat peluang market, memiliki produk serta kemampuan dalam pengelolaan keuangan. UMKM tentu harus memiliki akuntabilitas dalam pengelolaan barang, uang. Ia harus mampu memetakan SWOT, Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan hingga Ancaman. Para pelaku UMKM pun dituntut untuk mencipatakan produk, menciptakan harga produk, tempat penjualan produk, hingga promosi (4P). Itu bukan sekadar teori. Tapi juga pengalaman dilapangan bagi para pelaku UMKM. Dalam hal lain, UMKM dituntut untuk melek digital, e-commerce hingga e-banking. Anjungan digital kini dapat dinikmati para pelaku UMKM dengan mudah dan aman. Untuk itulah tidak ada alasan rasio UMKM menurun, setiap stakeholders telah memaksimalkan sumber daya perusahaan untuk berkontribusi dalam peningkatan kualitas ekonomi masyarakat. Tak ketinggalan pula dari sektor media di Rantau Prapat oleh pelaku UMKM di media , media siber hingga media lokal yang berjamur sebagai hubungan industrial di lingkungan Labuhan Batu. Media senantiasa mengikuti program pemerintah, program dinas Kominfo, dalam pencerahan masa depan UMKM di Labuhan Batu.
UMKM sejatinya harus melek digital, dipayungi oleh pemerintah sebagai penangkal isu sosial berupa pengangguran yang kerap menjadi penyebab kriminalitas yang tinggi di Labuhan Batu. Sejatinya , setiap elemen menggunakan hati dan pikiran, data dan fakta, bukan sekadar mengikuti jejak korup pemerintah Labuhan Batu paska kejadian di OTT-nya Erick Astrada oleh KPK karena penggelapan pembangunan jalan dan gedung di Labuhan batu. Sejak saat itu nama Labuhan Batu begitu terpuruk, oleh mafia yang diisi di dinas dinas strategis disana.Enterpreneurship haruslah hadir dalam membudayakan mental generasi milenial dan menangkal budaya korupsi, kolusi yang menyelimuti pemerintah kabupaten Labuhan Batu.
Mengapa lembaga swasta yang akhirnya turun didalangi oleh reputasi negara yang kian memudar, lembaga swasta, NGO, Guru Swasta, Petani Sawit, Pekebun adalah investasi profesi UMKM yang menjanjikan kini.Sektor inilah yang berorientasi profit dan sosialis, berkeadilan sosial dan berkeadilan lingkungan.Dengan memperbanyak mitra UMKM melalui program perbankan, diharapkan hilirisasi usaha sawit maupun hilirasasi usaha produksi lainnya dapat dikembangkan secara mandiri dan otonom tanpa ikut campur tangan investasi asing dari luar negeri. Masyarakat kecil ikut serta dan dibina dan diberdayakan.Koperasi diarus utamakan kembali.Serta bagaimana agar budaya “bolo Labuhan Batu” yang menjadi simbol utama Labuhan Batu dapat dicapai 2026.
Pandangan ini merupakan pandangan saya sebagai peneliti dari hal ekonomi, politik dan geografik yang saya lakukan sejak mengenyam studi paska sarjana di Labuhan Batu. Di era keterbukaan, tulisan saya masih jauh dari kata powerfull, karena saya juga rakyat biasa yang menantikan perubahan dibadan pemerintah.Saya berharap solusi dan masukan saya dapat didengarkan, kini saya tengah melakukan publikasi terindeks Sinta dan Scopus mengenai penggunaan BPJS Kesehatan oleh masyarakat Labuhan Batu, Rantau Prapat. Didalam hal, saya terenyuh, sedih dengan isi hati masyarakat kecil yang dipijak oleh kapitalis (baca: orang kaya) semoga moral dihati nurani kita tidak hilang, semoga etika profesi tetap dijunjung , serta hukum berlaku adil demi diperbaikinya kabupaten yang saya cintai selalu. Horas!


























